Sabtu, 22 Oktober 2011

Manajemen Medik Luka Bakar Fase Akut

Pencegahan infeksi

Infection control adalah komponen utama dalam manajemen luka bakar. Infection control dibutuhkan untuk manajemen luka bakar untuk mengontrol transmisi mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi atau kolonisasi. Infection control itu meliputi penggunaan sarung tangan, penutup kepala, masker, penutup sepatu, dan apron plastik. Staf dan pengunjung tidak diperbolehkan untuk kontak dengan klien jika memiliki infeksi kulit, saluran gastrointestinal atau pernapasan.

Memberikan support metabolik

Mempertahankan nutrisi yang adekuat selama fase akut dalamluka bakar adalah penting dalam membantu penyembuhan luka dan pengontrolan infeksi. BMR bisa meningkat 40-100% lebih tinggi dibandingkan normal, tergantung luasnya luka. Pemberian nutrisi yang agresiv dibutuhkan untuk menangani peningkatan kebutuhan energi untuk membantu penyembuhan dan mencegah efek katabolisme yang tidak diinginkan.

Meminimalisir nyeri

Nyeri adalah masalah yang signifikan selama klien dirawat di rumah sakit. Selama fase akut, dilakukan percobaan untuk menemukan kombinasi medikasi dan intervensi yang tepat untuk meminimalisir ketidaknyamanan dan nyeri yang berhubungan dengan luka.


Referensi:

Black and Hawks. Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcomes. 7th edition. Missouri:Elsevier Inc

Perawatan luka

Pembersihan luka. Hidroterapi tetap menjadi pilihan utama dalam penangan luka bakar untuk membersihkan lukanya. Caranya adalah dengan pencelupan, penyiraman atau penyemprotan. Sesi 30 menit atau kurang hidroterapi optimal untuk klien dengan luka bakar akut. Waktu yang lebih lama dapat meningkatkan kehilangan sodium melalui luka bakar dan dapat menyebabkan kehilangan panas, nyeri dan stress. Selama hydroterapi, luka dicuci dengan salah satu jenis larutan. Perawatan dilakukan untuk meminimalisisr perdarahan dan mempertahankan temperatur tubuh selama prosedur. Klien yang tidak dapat diikutkan hydroterapi adalah mereka yang hemodinamiknya tidak stabil dan mereka yang menjalankan cangkok kulit. Jika hydroterapi tidak digunakan, luka dibersihkan ketika klien di atas tempat tidur dan sebelum pemberian antimicrobial agent.

Debridement. Debridement luka bakar adalah pengangkatan eschar. Debridemen luka bakar dilakukan melaluii cara mekanik, enxzimatik, dan bedah. Mekanikal debridemen dapat dilakukan dengan penggunaan gunting dan forcep dengan hati-hati untuk mengangkat dan menghilangkan eschar yang sudah mudah terlepas. Penggantian balutan basah-kering adalah cara efektif debridemen yang lain.

Enzimatik debridemen adalah dengan pemberian protealitic dan fibrinolitik toikal pada luka bakar yang dapat memudahkan pelepasan eschar. Enzimatik debridemen tidak digunakan secara luas karena memiliki beberapa efek samping yang serius.

Surgical debridemen adalah tindakan eksisi eschr dan penutupan luka. Awal eksisi surgical dimulai selama minggu pertama setelah cedera, segera sesudah klien hamiknya stabil. Keuntungan dari eksisi segera adalah mobilisasi lebih cepat dan mengurangi lamanya waktu hospitalisasi. Kerugiannya adalah risiko mengeksisi jaringan viable yng dapat sembuh dengan sendirinya.

Pemberian antimikrobial topikal

Awal penanganan luka deep partial-thickness atau full thickness adalah dengan anti mikrobial. Obat ini diberikan 1-2 kali setelah pembersihan, debridemen, dan inspeksi luka. Perawat mengkaji untuk pelepasan eschar, adanya granulasi atau reepitelisasi jaringan, dan manifestasi infeksi. Luka bakar diobati dengan teknik balutan terutup atau terbuka. Untuk metode terbuka, antimikrobial diolesi dengan tangan yang bersarung tangan dan luka dibiarkan terbuka tanpa dibalut. Keuntungannya adalah memudahkan untuk melihat luka, lebih bebas untuk bergerak, dan lebih mudah dalm melakukan perawatan luka. Kerugiannya diantaranya adalah peningkatan risiko hipotermia karena terekspos. Pada metode tertutup, balutan diberikan antimikrobial kemudian digunakan untuk menutup luka. Keuntungannya adalah menurunkan evaporasi cairan dan kehilangan panas dari permukaan luka. Selain itu, balutan dapat membantu dalam debridemen. Kerugiannya adalah mobilitas terbatas dan berpotensi untuk penurunan keefektifan latihan ROM. Pengkajian luka juga jadi terbatas hanya padasaat penggantian balutan dilakukan.

Memaksimalakan Fungsi

Mempertahankan fungsi yang optimal klien dengan luka bakar adalah tantangan bagi seluruh anggota tim. Program individual seperti splinting, latihan, ambulasi, melakukan ADL, terapi penekanan sebaiknya dilakukan pada fase akut untuk memaksimalkan fungsi pada penyembuhan dan kosmetik outcome. Latihan ROM aktif dilakukan pada awal fase akut untuk meningkatkan resolusi dari edema dan mempertahankan kekuatan dan fungsi ssendi. Selain itu, ADL efektif untuk mempertahankan fungsi dan ROM. Ambulasi juga mempertahankan kekuatan dan ROM pada ekstremitas bawah dan sebaiknya dimulai segera setlah klien stabil secara fisiologis. ROM pasif dan peregangan harus menjadi bagian dari pengobatan harian jika klien tidak dapat melakukan latihan ROM aktif. Splint digunakan untuk mempertahankan posisi sendi yang tepat dan mencegah atau memperbaiki kontraktur.

Memberikan suport psikologi

Periode terpanjang penyesuaian diri terjadi selama fase akut. Penderita luka bakar dewasa dapat menujukkan respon emosional dan psikologi yang bervariasi. Biarkan klien mengekspresikan kekhawatiran dan memvalidasi bahwa mereka ”normal” penting dalam pemberian dukungan. Jadi pendengan yang aktif dan biarkan klien membicarakan tentang kecelkaannya. Menceritakan kembali secaradetail dan berulang-ulang tentang kejadian sangat berguna untuk menurunkan kepekaan klien terhadap ketakutan dan mimpi buruk. Melibatkan klien dalam perawatan diri mereka sendiri membantu mereka untukmerasa adanya pengontrolan yang berada di bawah tanggung jawabnya. Intervensi seperti ini telah terbukti efektif dalam mensuport kebutuhan psikologi klien.

Minggu, 02 Oktober 2011

Homeostasis homeodinamik

Homeostasis
Homeostatis merupakan mekanisme tubuh untuk mem[ertahakan keseimbangan dalam menghada[i berbagai ondisi yang dialaminya. Proses homesostasis dapat terjadi apabila tubuh mengalami stress, secara alamiah tubuh akan melakukan mekanisme pertahanan diri untuk menjaga agar tetap seimbang. Homesostasis adalah suatu proses pemeliharaan stabilitas dan adaptasi tarhadap kondisi lingkungan sekitar yang terjadi secara terus-menerus
Homeostasis terdiri dari homesostasis fisiologis dan psikologis.
Homeostsis fisiologis dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh sisitem endokrin dan sisitem saraf, proses homeostasis fisiologis terjadi melalui 4 cara :
1. pengaturan diri, sisitem ini terjadi seara otomatis pada orang yang sehat, contohnya pada proses pengaturan fungsi organ tubuh.
2. kompensasi. Tubuh akan cenedrung bereaksi terhadap ketidak normalan yang terjadi didalamnya. Misalnya, apabila secara tiba-tiba lingkungan menjadi dingin, maka pembuluh darah perifer akan mengalami kontriksi dan merangsang pembuluh darah bagian dalam untuk meningkatkan kegiatan (misalnya, menggigil) yang dpat menghasilkan panas sehingga suhu ettap stabil, pelebaran pupil untuk meningkatkan persepsi visual pada saat terjadi ancaman terhadap tubuh, dan meningkatkan keringat untuk mengontrol kenaikan suhu tubuh.
3. ump[an balik negatif. Proses ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal. Dalam keadaan abnormal, tubuh secara otomatis akan melakukan mekanisme umpan balik untuk menyeibangkan penyimpangan yang terjadi.
4. umpan balik untuk mengoreksi ketidak seimbangan fisiologis. Sebagai contoh, apabila seseorang mengalami hipoksia akan terjadi proses peningkatan denyut jantung untuk membawa darah dan oksigen yang cukip kesel tubuh.

Homesotasis psikologis, berfokus pada keseimbangan emosional dan kesejahteraan mental. Proses ini didapat dari pengalaman hidup dan interaksi dengan orang lain serta dipengaruhi oleh norma dan kultur masyarakat contoh homeostasis psikologis adalah mekanisme pertahanan diri, seperti mengangis , tertawa, berteriak, memukul, meremas, mencerca dan lain-lain.
Jadi proses homeostasi pada intinya adalah keseimbangan dalam tubuh yang dapat digambarkan

Homeodinamik
Homeodinamik merupakan pertukaran energi secara terus menerus antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Pada proses ini manisia tidak hanya melakukan penyesuaian diri, tetapi terus berinteraksi dengan lingkungan agar mampu mempertahankan hidupnya.
Proses homeodinamik bermula dari teori tentang manusia sebagai unit yang merupakan satu kesatuan yang utuh, memiliki karakter yang berbeda-beda, proses hidup yang dinamis, selalu berinteraksi dngan lingkungan yang dpat dipengaruhi dan mempengaruhinya serta memiliki keunikan tersndiri. Dalam proses homeodinamik ini terdapat beberapa prinsip berikutt:
1. prinsip integralitas, yaitu prinsip utama dlam hubungan antara manusia dengan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan. Perubahan proses kehidupan ini terjadi secara terus-menerus karena adanya interaksi manusia dengan lingkungan yang saling mempengaruhi
2. prinsip resonansi, yaitu prinsip bahwa proses kehidupan manusia selalu beriramaa dan frekuensinya berfariasi, mengingat manusia memiliki pengalaman beradaptasi dengan lingkungan.
3. prisip helicy, yaitu prinsip bahwa setiap perubahan dalam proses kehidupan manusia ber;langsung perlahan-lahan dan terdapat hubungan antara manusia dengan lingkungan

konsep kebutuhan dasar manusia
kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahan kan keseimbanagn fisiologis maupun psikologis, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan.
Kebutuhan dasar manusia memnurut abraham maslow dalam teori hierarki kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki 5 kebutuhan dasar, yaitu
- Kebutuhan psikologis (makan minum)
- Keamanan
- Cinta
- Harga diri
- Aktualisasi diri (potter dan patrici, 1997)

Ciri kebutuhan dasar manusia
Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen. Setiap orang pada dasarnya memilki kebutuhan yang sama, akan ettapi karena terdapat perbedaan budaya, amak kebutuhan tersbutopun ikut berbeda. Dalam emmenuhi kebutuhannya, manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Lalu jika gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan berpikir lebih keras dan bergerak untuk berusaha mendapatkannya.
Faktor yang mempengaruhikebutuhan dasara manusia.
1. penyakit. Adanya penyakit dlam tubuh dapat menyebabkan perubahan pemenuhan kebutuhan. Baik secara fisologis maupun psikologis, karena bebrapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih besar dari biasanya.
2. hubungan keluarga. Hubungankeluarga yang baik dapat emningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya, merasakan kesenangan hidup, tidak ada rasa curiga dan lain-lain
3. konsep diri. Konsep diri manusia memilki peran dlam pemenuhan kebutuhan dasar. Konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan (wholeness) bagi sesorang. Konsep diri yang sehat dapat mengjhasilkan perasaan positif terhadap diri. Orang yang merasa positif terhadap dirinya akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup yang dehat, sehingga mudah memenuhi kebutuhan dasarnya.
4. tahap perkembangan. Sejalan dengan menningkatnya usia, manusia mengalami perkembangan setiap taha[p perkembanagan tyersbut memilki kebutuhan yang berbeda baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial, maupun spsiritual, mengingat berbagai fungsi organ tubuh juga mengalami proses kematangan dengan aktivitas yang berbeda.

Beberapa model kebuthan dasar manusia
Menurut virginia Henderson ( dalam Potter dan Perry, 1997) membagi kebutuhan dasar manusia kedalam 14 komponen berikut :
1. bernafas secara normal
2. makan dan minum yang cukup
3. eliminasi ( BAB & BAK)
4. bergerak dan memepertahankan postur yang diinginkan
5. tidur dan istirahat
6. memilih pakaian yang tepat
7. memperetahankan suhu tubuh dalam kisaran normal dengan menyesuaikan dengan pakaian yang dikenakan dan memodifikasi lingkungan
8. menjaga kebersihan diri dan penampilan
9. menghindari bahaya dari lingkungan dan menghondari membahayakan orang lain
10. berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan kekhawatiran dan opini
11. beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan
12. bekerja sedemikian rupa sebagai modal untuk membiayai kebutuhan hisup
13. bermain atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi
14. belajar, menemukan, atau memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah pada perkembangan yang normal

jean watson (dalam B. Talento, 1995) membagi kebutuhan dasar manusia kedalam dua peringkat utama yaitu : kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah (lower order needs) dan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi (High order Needs). Pemenuhan kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah tidak selalu membantui upaya kompleks manusia untuk mencapai aktualitas diri. Tiap kebutuhan dipandang dalam konteksnya terhadap kebutuhan lain, dan semuanya dianggap penting.
abraham maslow
teori kebutuhan dasar manusia yang dikemukakan abraham maslow (dalam potter dan perry, 1997) dapat dikembangkan untuk menjelaskan kebutuhan dasar manusia Sbb:
1. kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar, yaitu kebutuhan fisiologis seperti oksigen, cairan atau minuman, nutrisi atau makanan, keseimbangan suhu tubuh, eliminasi, tempat tinggal, istirahat dan tidur serta kebutuhan seksual.
2. kebutuhan rasa aman dan perlindungan dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan psikologis
- perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup. Ancaman tersebut dapat berupa penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan, dll
- perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atasa ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain dsbnya.
3. kebutuhan rasa cinta serta rasa memiliki dan dimilki antara lain memberi dan menerima kasih sayang, mendpatkan kehangatan keluarga, memilki sahabat, diterima oleh kelompok usia, dsbnya
4. kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan ini terkait dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri, dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.
5. kebutuhan aktualisasi diri, merupakan kebutuhan tertinggi dlam hierarki maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain/lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.



Aktualisasi diri
Harga diri
Rasa cinta memilki dan dimiliki
Rasa aman dan perlindungan
Kebutuhan fisiologis

Rabu, 21 September 2011

MAKALAH HIV / AIDS

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME. Karena atas kehendak-Nyalah makalah ini dapat terselesaikan. Adapun tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah HIV/AIDS dan petunjuk pencegahan HIV/AIDS. Dalam penyelesaian makalah ini, penulisan banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat bimbingan dari berbagai pihak dan didukung dengan buku – buku yang ada serta sarana internet yang cukup memadai akhirnya makalah ini dapat diselesaikan, walaupun masih banyak kekurangannya.

Semoga dengan makalah ini kita dapat menambah ilmu pengetahuan serta wawasan tentang HIV / AIDS. Sehingga kita semua dapat terhindar dari penyakit berbahaya tersebut. semoga dapat bermanfaat.


Kendari, 15 October 2010

Penulis








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................2
DAFTAR ISI....................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 SEJARAH AIDS..............................................................................5
1.2 ETIOLOGI.......................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGIS HIV.............................................6
2.2 EPIDEMIOLOGI............................................................................7
2.3 PATOFISIOLOGI...........................................................................7
2.4 PATOGENESIS...............................................................................8
2.5 KRITERIA DIAGNOSIS................................................................9
2.6 TANDA DAN GEJALA PENYAKIT AIDS..................................9
2.7 KOMPLIKASI.................................................................................11
2.8 GEJALA KLINIS............................................................................12
2.9 PENULARAN..................................................................................13
2.10 DIAGNOSIS BANDING.................................................................13
2.11 PEMERIKSAAN PENUNJANG....................................................14
2.12 PENATALAKSANAAN..................................................................14
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN....................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................20



BAB I
PENDAHULUAN
Epidemi HIV/ AIDS di Indonesia sudah merupakan krisis global dan ancaman yang berat bagi pembangunan dan kemajuan sosial. Kasus-kasus HIV/ AIDS mengalami peningkatan pesat. Peningkatan yang tajam banyak dijumpai pada kasus orang dewasa terutama pengguna narkoba, pekerja seks maupun pelanggannya.
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakan sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.
 Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan
 Immune : Sistem kekebalan tubuh
 Deficiency : Kekurangan
 Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit
Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA (orang dengan HIV /AIDS) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.
• AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar (bukan dibawa sejak lahir).
• AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare).
• AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi (Center for Disease Control and Prevention).

2.1 SEJARAH AIDS
AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles,Amerika Serikat. Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2.
HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat.
Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari hewan. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan. HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun.
Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan hewan lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging. Teori yang lebih dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio.
Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa teori tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.

2.1 ETIOLOGI
HIV (Human Imunodeficiency Virus) adalah sejenis virus retrovirus RNA. Sel target virus ini terutama sel limfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus yang disebut CD4. Didalam sel limfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian, virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGIS HIV







Human immunodeficiency virus adalah virus penyebab Acquired mmunodeficiency Syndrome (AIDS). HIV yang dulu disebut sebagai HTLV-III (Human T cell lympothropic virus Tipe III) atau LAV (Lymphadenopathy Virus) adalah virus sitopatik dari retrovirus. Hal ini menunjukkan bahwa virus ini membawa materi genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam asam deoksiribonukleat (DNA).
Virus ini memiliki kemampuan unik untuk mentransfer informasi mereka dari RNA ke DNA dengan menggunakan enzim yang disebut reverse transcriptase, yang merupakan kebalikan dari proses transkripsi (dari DNA ke RNA) dan translasi (dari RNA ke protein) pada umumnya.
AIDS, Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit karena menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV. Centers for Disease Control (CDC) merekomendasikan bahwa AIDS ditujukan pada orang yang mengalami infeksi virus HIV, dimana orang tersebut mengalami penurunan sistem imun yang mendasar (sel T berjumlah 200 atau kurang) dan memiliki sistem imun positif terhadap HIV. Kondisi lain yang sering digambarkan meliputi kondisi demensia progresif, “wasting syndrome”, (pada pasien berusia lebih dari 60 tahun), kanker-kanker khusus lainnya (yaitu kanker serviks) atau diseminasi dari penyakit yang umumnya mengalami lokalisasi (misalnya, TB).
2.2 EPIDEMIOLOGI
Adanya infeksi menular seksual (IMS) yang lain (GO, klamidia), dapat meningkatkan risiko penularan HIV (2-5%). HIV menginfeksi sel-sel darah dan sistem imunitas tubuh sehingga semakin lama daya tahan tubuh menurun dan sering berakibat kematian. HIV akan mati dalam air mendidih/ panas kering (open) dengan suhu 56oC selama 10-20 menit. HIV juga tidak dapat hidup dalam darah yang kering lebih dari 1 jam, namun mampu bertahan hidup dalam darah yang tertinggal di spuit/ siring/ tabung suntik selama 4 minggu. Selain itu, HIV juga tidak tahan terhadap beberapa bahan kimia seperti Nonoxynol-9, sodium klorida dan sodium hidroksida.
2.3 PATOFISIOLOGI
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Virus HIV dengan suatu enzim, reverse ias olism se, yang akan melakukan pemograman ulang materi ias ol dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA. DNA ini akan disatukan kedalam ias ol sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Enzim inilah yang membuat sel T4 helper tidak dapat mengenali virus HIV sebagai antigen. Sehingga keberadaan virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan oleh sel T4 helper. Kebalikannya, virus HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Fungsi dari sel T4 helper adalah mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang memproduksi ias oli, menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi limfokin, dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi sel T4 helper terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan penyakit yang serius.
Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.
2.4 PATOGENESIS
Setelah HIV masuk kedalam tubuh, virus menuju kekelenjar limfe dan berada didalam sel dendritik selama beberapa hari. Kemudian terjadi sindrome retroviral akut disertai dengan viremia. Pada tubuh timbul respon imun humoral maupun seluler. Sindrom ini akan hilang dalam 1-3 minggu. Serokonversi (perubahan antibodi negatif menjadi positif) terjadi dalam 1-3 bulan, dalam masa ini memasuki masa tanpa gejala dan terjadi penurunan bertahap CD4 (normal 800-1000sel/mm3) yang terjadi setelah replikasi persisten virus HIV.


2.5 KRITERIA DIAGNOSIS
Gejala mayor:
1. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan.
2. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan.
3. Demam berkepanjangan lebih dari satu bulan.
4. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis.
5. Demensia/ensefalopati HIV.
Gejala minor:
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan.
2. Dermatitis generalisata yang gatal.
3. Herpes Zoster multisegemental dan atau berulang.
4. Kandidiasis orofaringeal.
5. Herpes simpleks kronis progresif.
6. Limfadenopati generalisata.
7. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.

2.6 TANDA DAN GEJALA PENYAKIT AIDS
Seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik, orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebelan tubuhnya menurun/lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV.
Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS diantaranya adalah seperti dibawah ini :

1. Saluran pernafasan. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Tidak jarang ias oli pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.
2. Saluran Pencernaan. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami ias oli yang kronik.
3. Berat badan tubuh. Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada ias o protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan ias ol/penyerapan makanan pada ias o pencernaan yang mengakibatkan ias oli kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.
4. System Persyarafan. Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.
5. System Integument (Jaringan kulit). Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau carar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.
6. Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita penyakit ias oli dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah ‘pelvic inflammatory disease (PID)’ dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).
2.7 KOMPLIKASI
A. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
B. Neurologik
kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
1) Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
2) Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler, hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.
3) Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
C. Gastrointestinal
Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
1) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
2) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
D. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, gagal nafas.
E. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi skunder dan sepsis.
F. Sensorik
• Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
• Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.

2.8 GEJALA KLINIS
Perjalanan penyakit dibagi dalam beberapa tahap berdasar klinis dan jumalah CD4 :
1. Infeksi Retroviral Akut : demam, pembesaran kelenjar, hepatosplenomegali, nyeri tenggorok, mialgia, rash seperti morbili, ulkus pada mukokutan, diare, leukopenia, limfosit atipik, meningitis aseptik, GBS, psikosis akut. Sindroma tersebut biasanya sembuh sendiri tanpa pengobatan.
2. Masa Asimptomatik : tidak menimbulkan gejala tapi biasa muncul limfadenopati umum. Disebut juga sebagai masa jendela (window periode). Penurunan CD 4 bertahap
3. Masa Gejala Dini : CD 4 berkisar 100-300. pneumonia bakteri, kandidosis vagina, sariawan, herpes zoster, leukoplakia, ITP, TB paru. Disebut AIDS related complex (ARC)
4. Masa Gejala Lanjut : CD4 dibawah 200, resiko tinggi infeksi oportunistik berat atau keganasan.

o Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh darah kapiler) juga adanya kanker kelenjar getah bening.
o Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya, pneu-mocystis,TBC, serta penyakit infeksi lainnya seperti teksoplasmosis.

2.9 PENULARAN

 HIV ditularkan melalui kontak seksual, injeksi perkutan terhadap darah yang terkontaminasi atau perinatal dari infeksi ibu ke bayinya.
 Jalur penularan infeksi HIV serupa dengan infeksi Hepatitis B.
 Anal intercourse/anal manipulation (homoseksual) akan meningkatkan kemungkinan trauma pada mukosa ias o dan selanjutnya memperbesar peluang untuk terkena virus HIV lewat ias o tubuh.
 Hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti.
 Hubungan heteroseksual dengan orang yang menderita infeksi HIV.
 Melalui pemakai obat bius intravena terjadi lewat kontak langsung darah dengan jarum dan semprit yang terkontaminasi. Meskipun jumlah darah dalam semprit ias oli kecil, efek kumulatif pemakaian bersama peralatan suntik yang sudah terkontaminasi tersebut akan meningkatkan risiko penularan.
 Darah dan produk darah, yang mencakup ias olis yang diberikan pada penderita ias olism, dapat menularkan HIV kepada resipien.
 Berhubungan seksual dengan orang yang melakukan salah satu tindakan diatas.

2.10 DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding pasien ini difikirkan sebagai multipel abses pada HIV yang disebabkan oleh Tubesculosis, karena abses pada tuberculoma juga terdapat multipel abses, dengan gambaran abses yang lebih kecil dengan ukuran 1-2 mm, serta efek massa yang minimal. Namun pada pasien ini didapatkan adanya gejala infeksi tuberkulosis pada paru, yaitu tidak adanya batuk-batuk yang lama dan pada pemeriksaan fisik paru tidak didapatkan kelaianan serta pada hasil MRI didapatkan ukuran yang lebih besar dan efek massa (+).

2.11 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan yang ias oli sederhana dan akurat adalah pemeriksaan darah yang disebut tes ELISA. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya ias oli terhadap HIV, hasil tes secara rutin diperkuat dengan tes yang lebih akurat. Ada suatu periode (beberapa minggu atau lebih setelah terinfeksi HI) dimana ias oli belum positif. Pada periode ini dilakukan pemeriksaan yang sangat ias olis untuk mendeteksi virus, yaitu antigen P24 . Antigen P24 belakangan ini digunakan untuk menyaringan darah yang disumbangkan untuk keperluan ias olis. Jika hasil tes ELISA menunjukkan adanya infeksi HIV, maka pada contoh darah yang sama dilakukan tes ELISA ulangan untuk memastikannya. Jika hasil tes ELISA yang kedua juga positif, maka langkah berikutnya adalah memperkuat diagnosis dengan tes darah yang lebih akurat dan lebih mahal, yaitu tes apusan Western. Tes ini juga bisam enentukan adanya ias oli terhadap HIV, tetapi lebih spesifik daripada ELISA. Jika hasil tes Western juga positif, maka dapat dipastikan orang tersebut terinfeksi HIV.

2.12 PENATALAKSANAAN
Pada saat ini sudah banyak obat yang ias digunakan untuk menangani infeksi HIV:
1. Nucleoside reverse transcriptase inhibitor
• AZT (zidovudin)
• ddI (didanosin)
• ddC (zalsitabin)
• d4T (stavudin)
• 3TC (lamivudin)
• Abakavir
2. Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
• Nevirapin
• Delavirdin
• Efavirenz
3. Protease inhibitor
• Saquinavir
• Ritonavir
• Indinavir
• Nelfinavir.
Semua obat-obatan tersebut ditujukan untuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit. HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat-obatan tersebut bila digunakan secara tunggal. Pengobatan paling efektif adalah kombinasi antara 2 obat atau lebih, Kombinasi obat ias memperlambat timbulnya AIDS pada penderita HIV positif dan memperpanjang harapan hidup. Dokter kadang sulit menentukan kapan dimulainya pemberian obat-obatan ini. Tapi penderita dengan kadar virus yang tinggi dalam darah harus segera diobati walaupun kadar CD4+nya masih tinggi dan penderita tidak menunjukkan gejala apapun. AZT, ddI, d4T dan ddC menyebabkan efek samping seperti nyeri abdomen, mual dan sakit kepala (terutama AZT). Penggunaan AZT terus menerus ias merusak sumsum tulang dan menyebabkan anemia. DdI, ddC dan d4T ias merusak saraf-saraf perifer. DdI ias merusak ias oli. Dalam kelompok nucleoside, 3TC tampaknya mempunyai efek samping yang paling ringan. Ketiga protease inhibitor menyebabkan efek samping mual dan muntah, diare dan gangguan perut. Indinavir menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat ias olism dan tidak menimbulkan gejala, juga menyebabkan nyeri punggung hebat (kolik renalis) yang serupa dengan nyeri yang ditimbulkan batu ginjal.Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya kadar obat lain dalam darah. Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan perubahan ias olism tubuh seperti peningkatan kadar gula darah dan kadar lemak, serta perubahan distribusi lemak tubuh (protease paunch).
Penderita AIDS diberi obat-obatan untuk mencegah infeksi oportunistik. Penderita dengan kadar limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/Ml darah mendapatkan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik dan infeksi toksoplasma ke otak. Penderita dengan limfosit CD4+ kurang dari 100 sel/Ml darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau klaritromisin atau rifabutin setiap hari untuk mencegah infeksi Mycobacterium avium. Penderita yang ias sembuh dari meningitis kriptokokal atau terinfeksi candida mendapatkan flukonazol jangka panjang. Penderita dengan infeksi herpes simpleks berulang mungkin memerlukan pengobatan asiklovir jangka panjang.
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
o Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.
o Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.
o Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
o Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
o Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terpinya yaitu :
A. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
B. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
C. Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
o Didanosine
o Ribavirin
o Diedoxycytidine
o Recombinant CD 4 dapat larut
D. Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
E. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.

F. Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).



Penatalaksanaan
1. SUPORTIF
2. Nutrisi dan vitamin cukup
3. Bekerja
4. Pandangan hidup positif
5. Hobi
6. Dukungan psikologis
7. Dukungan sosial
8. Pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik dan kanker
9. Antiretroviral
















BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, mencium, gels bekas dipakai penderita, handuk atau melalui closet umum, karena virus ini sangat rapuh.
Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh.
Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.






DAFTAR PUSTAKA
Sylvia A. Price & Lorraine M. Wilson. Buku PATOFISIOLOGI, konsep klinis & proses-proses penyakit, edisi 4

Kamis, 08 September 2011

SISTEM REPRODUKSI


SISTEM REPRODUKSI
A.      ORGAN GENITALIA MASCULINA
Organ genitalia masculina selain berfungsi memproduksi spermatozoa dan hormon juga dipakai untuk mengalirkan urine keluar melalui uretra. Dibagi menjadi organ genitalia masculina interna dan organ genitalia externa.
Organ genitalia masculina externa :
1.      Penis
2.      Uretra masculina
3.      Scrotum
Organ genitalia masculina interna :
1.      Testis
2.      Epididimis
3.      Ductus deferens
4.      Vesicula seminalis
5.      Funiculus spermaticus
6.      Prostat
7.      Glandula bulbouretralis

PENIS
            Penis dibentuk oleh jaringan erektil yang dapat mengeras ( ereksi ) dan dipakai untuk melakukan kopulasi. Ereksi terjadi oleh karena rongga – rongga di dalam jaringan erektil terisi darah. Penis terdiri atas 3 buah batang jaringan erektil. Dua buah di bagian lateral adalah korpus kavernosum dan satu  buah di bawahnya adalah korpus spongiosum ( mengandung uretra) yang ujungnya melebar yang disebut glans penis. Lipatan kulit yang mengbungkus glans penis disebut preputium.
URETRA
            Sebuah saluran yang berjalan dari leher vesica urinaria ke lubang luar ( meatus urinarius). Saluran ini menutup pada saat kosong. Pada pria ukuran panjang 20 cm, berfungsi menghantarkan semen dan urine. Uretra meninggalkan vesica urinaria dan melalui kelenjar prostat yang dikenal sebagai uretra pars prostatika, berjalan di dalam prostat disebut uretra pars membranasea, kemudian berlanjut ke dalam penis menjadi uretra pars spongiosa.
SCROTUM
            Merupakan sebuah kantung yang ditempati oleh testis, epididmis, dan funiculus spermaticus. Scrotum terdiri atas kulit tanpa lemak subkutan dan berisi sedikit jaringan otot yaitu musculus Dartos. Bentuk dan ukuran scrotum bervariasi antar individu, dan berubah menurut kondisi. Pada waktu cuaca dingin, musculus Dartos berkontraksi membuat kulit scrotum keriput. Sebaliknya pada saat cuaca panas kulit scrotum menjadi longgar. Keadaan ini berkaitan dengan fungsi scrotum untuk mempertahnkan suhu yang optimal sehingga proses spermatogenesis dapat berlangsung dengan baik dan sempurna.

                        




                            





TESTIS (= ORCHIS)
Testis berbentuk ovoid berat 10 – 14 gram yang terdapat di dalam scrotum. Testis  mempunyai ukuran panjang 4 cm dan lebar 2,5 cm dan dibungkus oleh kapsul yang terdiri dari 3 lapisan yaitu : tunika vaginalis, tunika albuginea, tunika vaskulosa. Setiap testis terdiri atas  200 – 300 lobulus dan setiap lobulus terdapat 1 – 4 tubulus seminiferus. Diantara tubulus tersebut terdapat jaringan yang berisi sel – sel Leydig yang menghasilkan testosteron. Tubulus seminiferus berlanjut ke rete testis, di dalam rete testis terdapat 6 -12 ductus yang kemudian berhubungan dengan epididimis melalui ductus eferen.

EPIDIDIMIS
            Epididimis berbentuk saluran – saluran berkelok – kelok sepanjang kira – kira 5 – 6 meter. Secara keseluruhan berbentuk seperti koma yang bagian – bagiannya terdiri atas kepala, badan, ekor. Ekor epididimis melanjutkan diri menjadi ductus deferen ( vas deferen ). Sebelum menembus prostat, ductus deferen bergabung dengan saluran dari vesicula seminalis dan menjadi ductus ejakulatorius. Ductus ejaculatorius menembus prostat dan bermuara ke dalam uretra.

       
VESICULA SEMINALIS
            Merupakan kelenjar yang menghasilkan cairan kental yang membantu agar sperma tetap dapat hidup setelah ejakulasi. Ada 2 buah yang terletak simetris, berupa kantong dengan ukuran 5 cm, dan terletak posterior dari vesica urinaria ( kantung kemih).

                                                                          
FUNICULUS SPERMATICUS
            Merupakan suatu struktur yang dibentuk oleh :
1.      Ductus deferen, bersama – sama dengan pembuluh darah dan serabut – serabut saraf yang menuju ke epididimis
2.      Arteria testicularis
3.      Plexus pampiniformis ( anyaman pembuluh vena yang berasal dari testis)
4.      Pembuluh – pembuluh limfe
5.      Arteria cremasterica

PROSTAT
            Suatu kelenjar yang terletak inferior dari vesica urinaria. Ukuran prostat adalah tinggi 3 cm, lebar 4 cm. Terdiri atas kelenjar, jaringan myofibril ( otot polos), dan jaringan ikat. Kelenjar prostat ini menghasilkan cairan encer pada saat ejakulasi. Tepat di inferior prostat terdapat kelenjar bulbouretralis ( Cowper ), yang menghasilkan secret kental, bersifat alkali, dan terang
                                




                










B.       ORGAN GENITALIA FEMININA
Terdiri atas genitalia feminina externa dan genitalia feminina interna. Organ genitalia externa atau disebut juga vulva yaitu :
1.      Mons pubis / mons veneris
2.      Labium mayor
3.      Labium minor
4.      Clitoris
5.      Vestibulum vagina
6.      Hymen
7.      Kelenjar vestibuli mayor
Organ genitalia interna terdiri dari :
1.      Ovarium
2.      Tuba uterine
3.      Uterus
4.      Vagina


                       

MONS PUBIS / MONS VENERIS
            Adalah suatu penonjolan yang berada di sebelah ventral symfisis pubis, yang dibentuk oleh jaringan lemak. Pada usia pubertas, mons pubis ditumbuhi rambut yang kasar.

LABIUM MAYOR ( BIBIR BESAR)
            Terdiri dari 2 buah labium mayor, panjangnya kira – kira 7 cm, dibentuk oleh lipatan kulit, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan otot polos. Permukaan luarnya banyak terdapat pigmen dan ditumbuhi rambut, sedangkan permukaan dalamnya licin dan tidak ditumbuhi rambut. Labium mayor homolog dengan scrotum.

LABIUM MINOR ( BIBIR KECIL)
            Berbentuk 2 buah lipatan kulit yang kecil, terletak di sebelah medial dari labium mayor, permukaannya licin, tidak mengandung jaringan lemak, dan berwarna pink.

VESTIBULUM VAGINA
            Adalah suatu celah yang terdapat diantara kedua labium minor, dan di tempat ini terdapat muara dari vagina, uretra, dan muara ductus kelenjar vestibuli mayor.

CLITORIS
            Organ ini homolog dengan penis. Terletak anterior dari vestibulum vagina. Terdiri dari jaringan erektil, dapat ereksi dan tidak dilalui uretra. Ukuran panjangnya 2,5 cm.

KELENJAR VESTIBULI MAYOR ( KELENJAR BARTHOLINI)
            Ada 2 buah kelenjar vestibule, berbentuk bundar, terletak tepat di posterior labium mayor. Kelenjar ini homolog dengan kelenjar bulbouretralis pada pria, menghasilkan lendir untuk membasahi vagina pada saat coitus.

HYMEN
            Adalah diafragma membran tipis, letaknya di ujung vagina, di bagian tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat keluar. Hymen ini memisahkan organ genitalia externa dan interna.

OVARIUM
            Ovarium adalah organ yang homolog dengan testis. Ukuran panjang ovarium adalah kira – kira 4 cm, lebar 2 cm dan tebal 1 cm, serta berat 7 gram. Ada 2 buah ovarium dextra dan sinistra yang masing – masing letaknya berada dalam fossa ovarica dan difiksasi pada uterus. Ovarium terbagi menjadi bagian kortek dan medula. Korteks terdiri atas jaringan ikat dengan folikel – folikel ovarium,sedangkan medulla terdiri atas jaringan ikat dengan banyak pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf. Selain memproduksi ovum, ovarium juga memproduksi hormon yaitu adalah estrogen dan progesteron


.

TUBA UTERINA ( TUBA FALOPII / SALPINX )
            Ada 2 buah tuba uterina yang berfungsi mengalirkan ovum ( oosit ) dari ovarium menuju ke uterus. Jadi fertilisasi ( pembuahan ) terjadi di tuba uterina. Tuba uterina mempunyai panjang kira – kira 10 cm an terbagi menjadi 4 bagian yaitu :
1.      Pars intramural ( pars uterina ), berada di dalam dinding uterus
2.      Pars isthmus, bagian yang paling sempit dan lurus
3.      Pars ampula tuba, bagian yang plaing lebar, panjang, berkelok – kelok, dinding relatif tipis, dan merupakan tempat pertemuan ovum dan sperma ( fertilisasi )
4.      Pars infundibulum, bagian yang menyerupai corong dengan fimbriae di ujungnya

UTERUS
            Organ muscular yang berdinding tebal, mempunyai bentuk menyerupai buah peer. Terletak di rongga pelvis ,diantara kandung kemih dan rectum. Mempunyai ukuran panjang 7,5 cm, lebar 5 cm dan tebal 3 – 4 cm. Bagian – bagian uterus adalah fundus, korpus dan serviks. Fundus uteri adalah bagian paling atas dengan permukaan yang mirip kubah. Korpus adalah bagian yang paling utama. Serviks uteri ( leher rahim ) adalah bagian yang mengarah ke bawah. Dinding uterus terdiri dari 3 lapisan yaitu perimetrium, miometrium, dan endometrium. Uterus difiksasi oleh ligament – ligament. Ligament – ligament tesebut yaitu ligamentum latum, ligament rotundum, ligamentum uterosakral, dan ligamentum servikal transversum

VAGINA
            Adalah suatu “organ of copulation”, selain itu juga berfungsi jalan lahir dan sebagai saluran untuk mrngeluarkan darah menstruasi. Vagina sangat elastis, terutama bagian yang ada di sebelah cranial. Lumen vagina berbentuk huruf “H” pada penampang melintang dan permukaannya tetap basah oleh cairan dari serviks.